-------
Saya pribadi melihat ada yang agak menarik di sini. Di post "Berkenalan dengan Reksadana" itu, saya ada quote dari buku Intelligent Investor :
Kebanyakan orang memilih reksadana dengan pertama-tama melihat performa (prestasi) selama ini, lalu reputasi manajer investasinya, lalu tingkat resiko reksadana itu dan yang terakhir dilihat (itu pun jika ada dilihat), berbagai biaya/fee dan pengeluaran reksadana itu.
Seorang Intelligent Investor dalam memilih reksadana, juga akan berdasarkan hal-hal di atas, tetapi dengan urutan yang terbalik.
Berarti seharusnya seorang Intelligent Investor menilai suatu reksadana dimulai dengan : (1)Biaya/fee (2) Tingkat Resiko (3) Karakter dan reputasi manajer investasinya, dan yang terakhir (4) prestasi reksadana selama ini.
Nah, yang menarik di sini adalah sejak saya menulis tentang reksadana, sudah ada dua orang yang bertanya mengenai mendalami karakter MI-nya, padahal itu urutan no 3. Mengapa tidak ada yg bertanya tentang no 1 atau no 2 ya? hahaha.
--------
Kembali ke pertanyaan mengenai topik "mengenal" Manajer Investasi. Tentu saja kondisi idealnya adalah jika anda bisa mengenal langsung manajer investasi itu secara pribadi dan tahu bagaimana pandangan dia tentang investasi. Tetapi tentu saja pilihan seperti ini boleh dikatakan tidak tersedia bagi para investor rata rata
.
Saya juga melihat bahwa investor reksadana di luar negeri, terutama negara maju, sedikit lebih "beruntung" daripada investor di Indonesia karena mereka bisa mencoba mendapatkan informasi mengenai manajer investasinya di Internet. Data tentang manajer investasi di Indonesia di internet sepertinya lebih sulit ditemukan.
Sewaktu makan siang tadi, saya meluangkan waktu untuk memikirkan solusi utk problem ini, dan menemukan suatu cara yang mungkin bisa dipakai teman-teman untuk membantu memberikan sedikit gambaran tentang Manajer Investasi suatu Reksadana. (PS: karena ini murni hasil pikiran saya, metode ini saya namakan metode "Edison" dan besok akan saya patenkan, hahaha, bercanda).
Di luar negeri, setiap reksadana di akhir tahun selalu memberikan laporan kepada para investornya. Seharusnya reksadana di Indonesia pun tidak berbeda. (Mudah-mudahan asumsi saya ini benar, karena kalau tidak, metode ini tidak bisa jalan)
Dalam metode ini, kita akan mencoba "mengenali" seorang manajer investasi melalui laporan ini. Untuk itu, sebelum menaruh uang kita di suatu reksadana, kumpulkanlah sebanyak-banyaknya laporan tahunan reksadana itu dari tahun-tahun lalu, semakin banyak semakin baik. Usahakan agar tidak ada tahun yang "bolong" laporannya.
Terlalu merepotkan? Mengutip tulisan di awal thread ini : "Repot? Tidak serepot kalau modal investasi kita hilang dan mesti ngumpulin modal lagi."
-------
Setelah memiliki arsip laporan itu, hal yang pertama harus dilihat adalah sudah berapa lama manajer investasi kita mengelola reksadana itu. Informasi ini seharusnya bisa dilihat dengan mudah dari laporan itu. Dalam setiap laporan tahunan, biasanya ada semacam "surat" dari manajer investasi kepada investor. Kita tinggal melihat apakah penulis "surat" itu berganti atau tidak.
Langkah pertama ini penting terutama utk reksadana yang sudah berjalan agak lama, karena ada kemungkinan pernah terjadi pergantian manajer investasi. Selanjutnya kita akan memfokuskan pengamatan kita kepada tahun-tahun di mana manajer investasi tersebut mulai mengelola reksadana itu.
Langkah kedua adalah mengamati apa saja investasi yang dipegang oleh reksadana itu setiap tahunnya. Misalkan kita berbicara tentang Reksadana Saham. Lihatlah saham-saham apa yang dipegang oleh reksadana itu tahun ini. Bandingkan dengan tahun lalu, dan lalu bandingkan lagi dengan tahun-tahun sebelumnya.
Jika setiap tahunnya saham-saham yang dimiliki oleh reksadana itu berubah drastis, maka mungkin ada baiknya kita berhati-hati. Ini bisa menandakan bahwa manajer investasinya berpikir "ala" trader dan bukan investor. Seorang manajer investasi seharusnya mempunyai pola pikir investor, dan seorang investor tentunya tidak akan "gonta-ganti" saham setiap tahun. Selain itu, jika manajer investasi itu berpikir "ala" trader dan reksadananya sering "gonta-ganti" saham, maka tentunya akan timbul biaya trading yang besar yang akan mengurangi tingkat hasil reksadana itu.
Langkah ketiga adalah membaca "surat" dari sang manajer investasi tersebut untuk setiap tahunnya, lalu bandingkan dengan laporan tahun berikutnya. Biasanya dalam "surat" tersebut, seorang manajer investasi akan menulis tentang prospek dan resiko, juga apa rencana investasi utk tahun berikutnya. Periksalah apakah apa yang dikatakan oleh manajer investasi itu benar dilakukan/terjadi di tahun berikutnya.
Ilustrasinya: dalam "surat" kepada investor pada tahun 2002, manajer tersebut berkata bahwa thn 2003, sektor telekomunikasi prospeknya bagus. Periksalah laporan tahun 2003, apakah benar dia lalu membeli saham telekomunikasi, dan bagaimana hasil dari investasi di saham itu? Jika misalnya dia berkata bahwa thn 2003 dollar akan melemah atau SBI akan naik, periksa apakah analisanya itu benar terjadi?
Dengan metode tiga langkah sederhana ini, mungkin teman-teman bisa mendapatkan sedikit gambaran kira kira seperti apa manajer investasi yang akan mengelola uang kita itu.
Mudah-mudahan cara yang saya usulkan ini bisa membantu sebagai pertimbangan tambahan dalam memilih reksadana.
Read my blog about investing at http://janganserakah.wordpress.com/
Saya pribadi melihat ada yang agak menarik di sini. Di post "Berkenalan dengan Reksadana" itu, saya ada quote dari buku Intelligent Investor :
Kebanyakan orang memilih reksadana dengan pertama-tama melihat performa (prestasi) selama ini, lalu reputasi manajer investasinya, lalu tingkat resiko reksadana itu dan yang terakhir dilihat (itu pun jika ada dilihat), berbagai biaya/fee dan pengeluaran reksadana itu.
Seorang Intelligent Investor dalam memilih reksadana, juga akan berdasarkan hal-hal di atas, tetapi dengan urutan yang terbalik.
Berarti seharusnya seorang Intelligent Investor menilai suatu reksadana dimulai dengan : (1)Biaya/fee (2) Tingkat Resiko (3) Karakter dan reputasi manajer investasinya, dan yang terakhir (4) prestasi reksadana selama ini.
Nah, yang menarik di sini adalah sejak saya menulis tentang reksadana, sudah ada dua orang yang bertanya mengenai mendalami karakter MI-nya, padahal itu urutan no 3. Mengapa tidak ada yg bertanya tentang no 1 atau no 2 ya? hahaha.
--------
Kembali ke pertanyaan mengenai topik "mengenal" Manajer Investasi. Tentu saja kondisi idealnya adalah jika anda bisa mengenal langsung manajer investasi itu secara pribadi dan tahu bagaimana pandangan dia tentang investasi. Tetapi tentu saja pilihan seperti ini boleh dikatakan tidak tersedia bagi para investor rata rata
Saya juga melihat bahwa investor reksadana di luar negeri, terutama negara maju, sedikit lebih "beruntung" daripada investor di Indonesia karena mereka bisa mencoba mendapatkan informasi mengenai manajer investasinya di Internet. Data tentang manajer investasi di Indonesia di internet sepertinya lebih sulit ditemukan.
Sewaktu makan siang tadi, saya meluangkan waktu untuk memikirkan solusi utk problem ini, dan menemukan suatu cara yang mungkin bisa dipakai teman-teman untuk membantu memberikan sedikit gambaran tentang Manajer Investasi suatu Reksadana. (PS: karena ini murni hasil pikiran saya, metode ini saya namakan metode "Edison" dan besok akan saya patenkan, hahaha, bercanda).
Di luar negeri, setiap reksadana di akhir tahun selalu memberikan laporan kepada para investornya. Seharusnya reksadana di Indonesia pun tidak berbeda. (Mudah-mudahan asumsi saya ini benar, karena kalau tidak, metode ini tidak bisa jalan)
Dalam metode ini, kita akan mencoba "mengenali" seorang manajer investasi melalui laporan ini. Untuk itu, sebelum menaruh uang kita di suatu reksadana, kumpulkanlah sebanyak-banyaknya laporan tahunan reksadana itu dari tahun-tahun lalu, semakin banyak semakin baik. Usahakan agar tidak ada tahun yang "bolong" laporannya.
Terlalu merepotkan? Mengutip tulisan di awal thread ini : "Repot? Tidak serepot kalau modal investasi kita hilang dan mesti ngumpulin modal lagi."
-------
Setelah memiliki arsip laporan itu, hal yang pertama harus dilihat adalah sudah berapa lama manajer investasi kita mengelola reksadana itu. Informasi ini seharusnya bisa dilihat dengan mudah dari laporan itu. Dalam setiap laporan tahunan, biasanya ada semacam "surat" dari manajer investasi kepada investor. Kita tinggal melihat apakah penulis "surat" itu berganti atau tidak.
Langkah pertama ini penting terutama utk reksadana yang sudah berjalan agak lama, karena ada kemungkinan pernah terjadi pergantian manajer investasi. Selanjutnya kita akan memfokuskan pengamatan kita kepada tahun-tahun di mana manajer investasi tersebut mulai mengelola reksadana itu.
Langkah kedua adalah mengamati apa saja investasi yang dipegang oleh reksadana itu setiap tahunnya. Misalkan kita berbicara tentang Reksadana Saham. Lihatlah saham-saham apa yang dipegang oleh reksadana itu tahun ini. Bandingkan dengan tahun lalu, dan lalu bandingkan lagi dengan tahun-tahun sebelumnya.
Jika setiap tahunnya saham-saham yang dimiliki oleh reksadana itu berubah drastis, maka mungkin ada baiknya kita berhati-hati. Ini bisa menandakan bahwa manajer investasinya berpikir "ala" trader dan bukan investor. Seorang manajer investasi seharusnya mempunyai pola pikir investor, dan seorang investor tentunya tidak akan "gonta-ganti" saham setiap tahun. Selain itu, jika manajer investasi itu berpikir "ala" trader dan reksadananya sering "gonta-ganti" saham, maka tentunya akan timbul biaya trading yang besar yang akan mengurangi tingkat hasil reksadana itu.
Langkah ketiga adalah membaca "surat" dari sang manajer investasi tersebut untuk setiap tahunnya, lalu bandingkan dengan laporan tahun berikutnya. Biasanya dalam "surat" tersebut, seorang manajer investasi akan menulis tentang prospek dan resiko, juga apa rencana investasi utk tahun berikutnya. Periksalah apakah apa yang dikatakan oleh manajer investasi itu benar dilakukan/terjadi di tahun berikutnya.
Ilustrasinya: dalam "surat" kepada investor pada tahun 2002, manajer tersebut berkata bahwa thn 2003, sektor telekomunikasi prospeknya bagus. Periksalah laporan tahun 2003, apakah benar dia lalu membeli saham telekomunikasi, dan bagaimana hasil dari investasi di saham itu? Jika misalnya dia berkata bahwa thn 2003 dollar akan melemah atau SBI akan naik, periksa apakah analisanya itu benar terjadi?
Dengan metode tiga langkah sederhana ini, mungkin teman-teman bisa mendapatkan sedikit gambaran kira kira seperti apa manajer investasi yang akan mengelola uang kita itu.
Mudah-mudahan cara yang saya usulkan ini bisa membantu sebagai pertimbangan tambahan dalam memilih reksadana.
Read my blog about investing at http://janganserakah.wordpress.com/






0 comments:
Post a Comment