Monday, December 2, 2013

Berkenalan dengan Reksadana

Posted by Unknown at 7:56 PM
NOTE: Artikel ini saya tulis untuk menjawab pertanyaan dari aaaaabbbbbb yang bertanya tentang Reksadana. Artikel ini sengaja saya buat seringan mungkin agar mudah dimengerti. Pembahasannya pun agak umum sehingga tidak terbatas kepada satu jenis reksadana saja dan juga tidak terbatas di Indonesia saja. Untuk pembahasan lebih detail untuk setiap jenis reksadana sendiri mungkin baru akan saya buat di kesempatan lain.


BERKENALAN DENGAN REKSADANA


Saya teringat sewaktu SD dahulu uang jajan saya Rp 100. Di sekolah saya dulu, dengan jumlah uang itu, saya dihadapkan kepada dua pilihan jajanan : nasi uduk, yang nilai lebihnya adalah bisa membuat kenyang atau kerupuk bangka, yang nilai lebihnya adalah "enaaak" (biasa, anak kecil paling suka kerupuk).

Setiap hari saya selalu dipusingkan oleh "dilema" itu, sampai suatu hari saya menemukan solusinya. Saya bersama teman saya yang uang jajannya juga sebesar Rp 100 menggabungkan "kekuatan" lalu membeli nasi uduk DAN kerupuk. Nasi uduk dan kerupuk itu lalu kami bagi dua, sehingga masing-masing bisa menikmati kerupuk tetapi juga tetap lumayan kenyang.

Solusi cemerlang ini berjalan mulus hingga suatu hari kami berkelahi karena suatu hal yang sangat penting ("hal penting" itu bernama Melly, anak baru dari Sukabumi). Setelah perkelahian itu, saya kembali harus menghadapi permasalahan memilih antara nasi uduk dan kerupuk bangka.

-----o0o-----

Reksadana, jika disederhanakan, tidaklah berbeda dari apa yang saya dan teman saya lakukan di atas (yang saya maksud di sini adalah menggabungkan "kekuatan" uang, bukan berkelahi memperebutkan Melly).

Misalkan saja saya ingin berinvestasi di saham Amerika. Jika saya mengambil jalan berinvestasi langsung di bursa saham, dan saya tertarik untuk invest di 30 perusahaan terbesar di amerika (Citibank, GE, dll), maka modal yang saya butuhkan sangat besar. Jika saya membeli 1 lot (100 lbr saham) saja utk masing-masing perusahaan itu, modal yang saya perlukan (per hari ini) adalah kira kira sebesar $150.000,- (sekitar Rp 1,4 Milyar).

Tentu saja jumlah yang saya sebutkan di atas sangat besar dan di atas kemampuan investor "rata-rata". Untuk menjawab kebutuhan investasi para investor "rata-rata" inilah asal muasal lahirnya Mutual Fund, yang lalu dikenal di Indonesia sebagai Reksadana.

Prinsip dasarnya di sini adalah investor-investor dengan dana terbatas "mengumpulkan" uangnya untuk dikelola seorang Manajer Investasi. Manajer Investasi ini lalu mengenakan "biaya manajemen" sebagai imbalan utk kerjanya.

Meskipun pada awalnya reksadana itu ditujukan utk investor dengan dana terbatas, dalam perkembangannya, reksadana juga menjadi sarana investasi bagi orang-orang yang mungkin memiliki dana yang cukup besar, tetapi ingin bebas dari "kerepotan" mengurus portofolio investasinya.

-----o0o-----

Mutual Fund (Reksadana) sendiri biasanya diklasifikasikan berdasarkan instrumen investasinya. Reksadana yang berinvestasi di saham disebut sebagai Reksadana Saham (RDS); yang berinvestasi di instrumen hutang spt obligasi disebut sebagai Reksadana Pendapatan Tetap (RDPT); yang berinvestasi di instrumen pasar uang disebut sebagai Reksadana Pasar Uang (RDPU) dan sebagainya.

Dengan begitu banyaknya jenis reksadana, reksadana seperti apa yang harus kita pilih? Ini tentunya harus dicocokkan dengan kebutuhan investasi kita, karena kebutuhan investasi setiap orang tidak sama. Untuk itu banyak hal yang harus kita pertimbangkan, seperti misalnya kapan kira-kira hasil investasi ini akan kita perlukan atau juga bagaimana toleransi kita terhadap resiko? Seseorang yang "alergi" resiko dan akan membutuhkan dana investasinya di tahun depan utk biaya menikah misanya, tentu saja tidak cocok untuk berinvestasi di Reksadana Saham.

Setelah menentukan jenis reksadana, dengan begitu banyaknya perusahaan yang menawarkan produk reksadana, bagaimana cara kita memilih reksadana yang akan kita percayakan dengan uang kita?

Untuk menjawab pertanyaan ini, saya akan mengutip suatu paragraf dari buku "Intelligent Investor" :

     Kebanyakan orang memilih reksadana dengan pertama-tama melihat performa (prestasi) selama ini, lalu reputasi manajer investasinya, lalu tingkat resiko reksadana itu dan yang terakhir dilihat (itu pun jika ada dilihat), berbagai biaya/fee dan pengeluaran reksadana itu.

Seorang Intelligent Investor dalam memilih reksadana, juga akan berdasarkan hal-hal di atas, tetapi dengan urutan yang terbalik.

-----o0o-----

Bagi para calon investor di Reksadana Saham (RDS), dalam kesempatan ini saya ingin menyarankan untuk mempertimbangkan memilih Reksadana Index (RDI).

Dalam Reksadana Saham "biasa", manajer investasi reksadana tersebut secara aktif memilih dan menentukan ke saham apa yang kira kira akan memberikan hasil yang baik, dan lalu menginvestasikan dana reksadana tersebut di saham-saham itu. Reksadana Index (RDI), di lain pihak, menginvestasikan dana yang terkumpul di seluruh saham yang tercatat di index suatu bursa.

Secara sekilas, kelihatannya metode yang dipakai oleh RDI terlalu sederhana dan bahkan berkesan "bodoh/malas". Tetapi sebenarnya cara operasi RDI ini didasarkan pada suatu realita "lucu" di dunia investasi : mayoritas manajer investasi, dalam jangka panjang, gagal menyamai prestasi index bursa (kata "mayoritas" di sini adalah sebesar 75%-95%, tergantung penelitian mana yang anda baca).

Ya, anda tidak salah baca. Mayoritas reksadana, dengan begitu banyak orang pintar di belakangnya, bahkan gagal menyamai prestasi index bursa. Ini bukan gurauan. Fakta ini sudah dibuktikan oleh berbagai penelitian, dan tidak ada seorangpun pakar investasi yang mempunyai integritas (baca : "jujur") akan membantah fakta ini. Dan oleh karena mayoritas manajer investasi gagal menyamai prestasi index bursa, mengapa kita tidak memilih utk investasi di Reksadana yang "menjiplak" index?

Mungkin ada di antara teman-teman yang lalu berpikir, jika dikatakan "mayoritas" manajer investasi gagal menyamai prestasi index bursa, berarti ada "minoritas" manajer investasi yang berhasil menyamai bahkan melebihi prestasi index bursa? Tentu saja ini benar, tetapi utk dapat memilih reksadana yang masuk dalam kelompok "minoritas" ini tidak kalah sulitnya dengan memilih dan menseleksi saham yang baik.

Benjamin Graham dan Warren Buffet dalam berbagai kesempatan selalu merekomendasikan Reksadana Index (secara lengkapnya "Low Cost, No Load Index Fund") sebagai pilihan investasi terbaik untuk investor pada umumnya.

-----o0o-----

Sebagai tambahan di sini, ada baiknya saya menjelaskan arti dari "Low Cost" dan "No Load" di atas.

"Low Cost" di sini berarti bahwa reksadana itu mengenakan biaya/fee (terutama biaya tahunan/annual fee) yang sangat rendah. Salah satu faktor yang berpengaruh besar terhadap besarnya fee adalah apakah reksadana itu dikelola secara aktif atau pasif. Reksadana yang dikelola secara aktif, dimana manajer investasinya secara aktif menseleksi saham apa yang akan dibeli, boleh dikatakan selalu mengenakan biaya yang lebih tinggi dari reksadana yang dikelola secara pasif seperti Reksadana Index.

"No Load" dalam pembahasan di atas, menggambarkan reksadana yang tidak mengenakan biaya pembelian ataupun penjualan sewaktu kita memasukkan ataupun mencairkan dana investasi kita. Sebagai perbandingan, ada reksadana yang bertipe "With Load", baik berupa "Front Load" (biaya ketika kita memasukkan dana) ataupun "End Load" (biaya ketika kita mencairkan dana).

Ingatlah bahwa utk setiap jumlah uang yang anda bayar utk biaya-biaya diatas, itu berarti dana anda yang diinvestasikan berkurang sejumlah biaya itu. Semakin besar biaya yang anda bayar kepada manajer investasi anda, sudah pasti semakin kecil hasil yang bisa anda terima. Padahal belum tentu manajer investasi anda bisa memberikan hasil "lebih" yang sesuai dengan biaya "lebih" yang kita bayarkan.

NOTE: Saya pernah diskusi dengan bro dunkz dan beberapa teman yang aktif di dunia reksadana Indonesia. Berdasarkan sharing dari mereka, saat ini sepertinya belum ada Reksadana di Indonesia yang bertipe "No Load". Itulah sebabnya kadang saya berpikir bahwa Indonesia itu tidak Investor-friendly, dan nasib Investor di Indonesia itu "memprihatinkan"

0 comments:

Post a Comment

 

Pretty Thoughts Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos